GERBANG ISTANA HANTU PDF

MALAY WORDS THAT RHYME WITH PINTU. bantu. bantu. binantu. binantu. buntu. buntu. hantu. hantu. intu. intu. jentu. jentu. kantu. kantu. kasintu. kasintu. Meski disebut gerbang Kadriah, namun untuk mencapai istana Kadriah dan rombongan kapal kakap Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu. gatehouse (pintu gerbang) of the Istana Maziah in Kuala Trengganu gave him the name of hantu kkekeng or the ‘ghost with legs astride’;.

Author: Tokazahn Kegore
Country: Monaco
Language: English (Spanish)
Genre: Finance
Published (Last): 11 August 2018
Pages: 114
PDF File Size: 12.55 Mb
ePub File Size: 20.39 Mb
ISBN: 335-1-31987-934-5
Downloads: 78625
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Shaktikree

Hari telah merembang petang, ketika alKisah memasuki gerbang Istana Kadriah yang tak jauh dari Tol Kapuas sebutan warga Pontianak untuk jembatan yang menghubungkan dua tepian sungai Kapuas.

Di bawah gerbang biasanya telah menunggu beberapa becak. Atau jika ingin menikmati nuansa tradisional Pontianak berjalan kaki juga bisa jadi alternatif pilihan.

Disamping lebih praktis dan lebih cepat, juga sangat murah. Cukup dengan uang seribu rupiah penumpang bisa menikmati penyebrangan berdurasi dua sampai tiga menit dengan sampan bermotor. Di Pontianak, jalur transportasi sungai memang sangat populer dan berusia lebih tua dari pada tranporatsi modern lainnya. Bisa dimaklumi, karena satu-satunya jalur gerbanng bisa menghubungkan semua kabupaten di Kalbar adalah sungai. Meski kaya akan sungai dan sudah dialiri air bersih dari PDAM, namun untuk minum, sebagian besar penduduk Pontianak masih mengandalkan air hujan.

Jangan heran, jika di halaman rumah sebagian besar penduduk akan dijumpai bak-bak penampungan air berukuran besar. Beruntung curah hujan di kota terbilang cukup tinggi. Kedua tempat itu juga awalnya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak. Namun sayang, seiring dengan israna kota yang bergerak ke seberang selatan Sungai Kapuas, lingkungan Istana Kadriah yang berada di pinggiran pun menjadi terabaikan.

Bahkan, beberapa dekade belakangan, wilayah bersejarah justru dikenal sebagai daerah kumuh yang tertinggal.

Ini terlihat dari semrawutnya tataletak perumahan yang rata-rata dibawah standar. Pemandangan itu masih diperparah dengan kualitas gaya hidup warganya yang masih ala kadarnya, seperti mandi di sungai yang airnya semakin menghitam dan pendidikan yang pas-pasan. Belum lagi image-image negatif yang sering ditudingkan secara pukul rata kepada penduduk kampung-kampung di sekitar keraton.

Nasib nyaris serupa ternyata juga menimpa simbol peradaban Islam di Pontianak, yakni Keraton Kadriah. Mengunjungi keraton yang dibangun oleh Sultan Abdurrahman, sore itu, ada rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak di hati. Betapa tidak, bangunan bersejarah itu tampak muram dengan beberapa kayunya yang mulai rapuh dimakan usia. Sebuah meriam kecil berwarna kuning yang menyambut setiap tamu di depan bangunan istana, menceritakan etos kepahlawanan raja-raja Pontianak masa lampau.

Memasuki balairung —tempat sultan terdahulu biasa menerima punggawa dan rakyatnya yang datang menghadap—yang terletak bagian utama keraton, aura muram semakin kuat terpancar. Nuansa kuning yang mendominasi dinding istana, tak mampu membuat suasana ruangan tempat singgasana raja berada itu menjadi ceria. Perasaan haru semakin menyayat, ketika memasuki memasuki bekas kamar Sultan Muhammad Alkadrie yang berada di sisi kanan balairung, dekat pintu masuk keraton.

Di dalamnya terdapat peraduan tua yang masih sangat indah, peninggalan sultan keenam itu. Di atas sebuah meja di seberang peraduan, terdapat sebuah kotak kaca yang berisi mushaf Al-Quran tulisan tangan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kesultanan Kadriah Pontianak. Di belakangnya tampak foto perahu lancang kuning khas Pontianak yang tengah berlayar di Sungai Kapuas.

Tepat dibelakang balairung, terdapat satu ruangan besar yang juga kosong. Hanya lukisan silsilah kerajaan, beberapa tombak dan payung serta foto-foto keluarga kesultanan saja yang masih membuat ruangan itu tampak sebagai bagian dari sebuah keraton.

Di beberapa sudut tampak sisa-sisa pesta perkawinan semalam. Beberapa tahun belakangan, ruangan utama keraton memang sering dipinjam keluarga istana untuk resepsi pernikahan. Sungguh pemandangan yang memilukan. Kursi singgasana yang kosong, foto para sultan, meriam kecil dan seorang ibu tua yang dengan ramah menyambut kami, menceritakan tentang bagian-bagian istana.

  KYORITSU 1011 PDF

Meaning of “pintu” in the Malay dictionary

Semuanya mengisyaratkan Keraton Kadriah yang seakan tengah menjerit lelah, menahan beban kisah kejayaan Kesultanan Pontianak di masa lalu, yang kini hanya tinggal legenda. Sejarah Pontianak sendiri egrbang dari kedatangan seorang ulama dari tanah Hadramaut, yakni Syarif Husein bin Ahmad Alkadrie. Setelah menikah dengan putri raja Matan, ia hijrah ke kerajaan Mempawah sekarang ibukota kabupaten Pontianak. Hantu Kuntilanak Suatu ketika, sepeninggal Syarif Husein Alkadrie, Syarif Abdurrahman Alkadrie minta ijin kepada mertuanya untuk membuka wilayah baru, istanq bisa mensyiarkan agama Islam.

Pengembaraan pun dilakukan dengan perahu kakap, menyusuri sungai Landak dan sungai Kapuas sampai kemudian menemukan calon kota Pontianak. Kata Pontianak hangu berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal kakap Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut.

Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu.

PINTU – Definition and synonyms of pintu in the Malay dictionary

Kemudian Syarif Abdurrahman bermunajat memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah. Setelah kurang lebih lima malam berada di selat yang berada antara Batulayang dan pulau kecil di tengah sungai, putra Syarif Husein bin Ahmad Iftah Shiddiq Alkadrie, mufti kerajaan Mempawah, itu memerintahkan anak buahnya mengisi seluruh meriam dengan peluru. Menjelang subuh, ulama muda itu memerintahkan agar meriam ditembakkan ke tepian sungai.

Selama beberapa waktu suara dentuman meriam menghujani hutan belantara yang berada di sepanjang tepi sungai. Bersamaan dengan berhentinya dentuman meriam, hilang pula gangguan hantu pontianak dan suara-suara aneh dari hutan. Syarif Abdurrahman kemudian memerintahkan untuk menembakkan meriam sekali lagi untuk mencari lokasi pembangunan masjid. Setelah matahari terbit puluhan anak buah menantu raja Mempawah yang juga menantu raja Banjar itu membabat hutan mencari peluru meriam.

Ternyata peluru ditemukan dibawah sebuah pohon besar yang di salah satu dahannya terdapat ayunan bayi. Oleh Syarif Abdurrahman pohon itu lalu dibersihkan hant dan dijadikan tiang utama masjid. Rombongan itu lalu bahu membahu membangun bagian-bagian masjid yang seluruhnya berbahan kayu. Usai pembangunan masjid, Syarif Abdurrahman kembali menembakkan meriam. Di lokasi jatuhnya meriam kedua itu lalu dibangun komplek istana Kadriah.

Kepemimpinan ulama muda yang cakap itu berhasil membuat kerajaan baru itu menjadi kota pelabuhan besar dan pusat perdagangan yang disegani.

Namun sayang, istna tahun setelah penobatan sultan kelahiran tahun H itu, kedaulatan kerajaan baru itu terusik. Tahun M, penjajah Belanda mulai menginjakkan kaki di bumi Khatulistiwa. Awalnya rombongan pertama, yang dipimpin seorang petor asisten residen dari Rembang bernama Willem Ardinpola, itu minta ijin kepada Sultan untuk berniaga di wilayahnya. Oleh Sultan yang murah hati itu Bangsa Belanda diberi tempat berdagang di isgana Keraton Pontianak yang kini terkenal dengan nama Tanah Seribu Verkendepaal.

Beberapa tahun setelah berdagang dengan damai, VOC mulai melakukan praktik monopoli ekonomi dan perdagangan yang memicu konflik dengan pedagang-pedagang pribumi.

Konflik itu lalu dijadikan alasan untuk mendatangkan balatentara ke Pontianak. Sejak saat itulah Kesultanan Pontianak memasuki fase perjuangan melawan penjajah yang berlangsung hingga akhirnya bergabung dengan NKRI.

Memutar Tasbih Sejarah kesultanan Pontianak memang identik dengan dakwah, perjuangan dan pengorbanan. Tujuan didirikannya kesultanan Pontianak sendiri, menurut Sultan Pontianak ke-9 Syarif Abubakar Alkadrie, tidak lain untuk meneguhkan dakwah Islamiyyah.

Ketika itu, lanjut Sultan, Syarif Abdurrahman minta ijin meninggalkan kerajaan Mempawah kepada mertuanya untuk menyebarkan agama Islam di bagian lain pulau Kalimantan. Kisah-kisah kehidupan para sultan pontianak generasi awal juga identik dengan kesalehan dan nuansa keberagamaan yang kental. Misalnya ketika membuka wilayah Pontianak, yang pertama kali dibangun Sultan adalah masjid, baru kemudian istana.

Ini melambangkan orientasi akhirat yang lebih mendorong berdirinya kerajaan Pontianak daripada ambisi keduniawian. Sultan dan rakyat Pontianak memang dikenal sebagai pejuang-pejuang yang gagah berani dan penuh pengorbanan dalam melawan penjajahan.

  JOHN RINGO THE TULORIAD PDF

Kisah perjuangan paling legendaris yang hingga saat ini terus terngiang-ngiang di hati rakyat Pontianak adalah tragedi Mandor.

Pada insiden tersebut lebih dari 21 ribu pria —termasuk Sultan Muhammad Alkadrie, seluruh punggawa, dan kaum intelektual—di kotaraja Pontianak dibantai oleh tentara Jepang.

Berdasarkan catatan di Museum Jepang di Tokyo, peristiwa tragis terjadi mulai 23 April hingga 28 Juni Waktu yang terbilang singkat, untuk membantai puluhan ribu nyawa. Peristiwa yang target awalnya hanya akan menangkap sekitar lima ribu orang itu meninggalkan kesedihan dan kepedihan yang mendalam bagi keluarga korban.

Sebelum dibantai, korban-korban sempat dipekerjakan sebentar sebagai romusha, kecuali keluarga kerajaan yang langsung dibunuh hari itu juga.

Dengan mata berkaca-kaca, Sultan Syarif Abubakar yang ditemui Kang Turab di haantu di belakang Istana Kadriah mengisahkan peristiwa berdarah itu. Sejak awal April, pemerintah Jepang hsntu Pontianak mendengar isu akan adanya pemberontakan. Suasana kota Pontianak pun menjadi tegang. Rupanya ada yang memanfaatkan situasi itu untuk memancing di air keruh, tiba-tiba Jepang mencurigai keluarga Sultan Muhammad Alkadrie yang akan menjadi otak pemberontakan.

Hari itu ribuan balatentara Jepang mengadakan operasi kilat penangkapan orang-orang yang dicurigai. Dengan membabi buta setiap orang yang dianggap mempunyai intelektualitas —terutama para ulama—ditangkapi. Dengan disaksikan istri, anak cucu, punggawa dan sebagian rakyatnya, raja yang ahli ibadah itu dirantai dan kepalanya ditutupi kain hitam, sebelum dibawa pergi. Yang mengharukan, sebelum dibawa pergi Sultan Muhammad Alkadrie memutar-mutar tasbih di jari telunjuknya seraya bertakbir.

Rombongan ggerbang kerajaan lalu dibawa ke depan markas Jepang di sisi lain sungai Kapuas sekarang menjadi markas Istwna. Di tempat itu satu persatu kepala mereka iistana, kemudian dimasukkan ke truk dan dibawa pergi entah kemana.

Beruntung, tujuh bulan kemudian —setelah Jepang sudah angkat kaki– jasad Sultan Muhammad Istxna berhasil ditemukan di Krekot. Penemuan itu sendiri berkat laporan salah seorang penggali lubang makam yang berhasil lolos dari pembantaian serdadu Jepang. Dan sungguh menakjubkan, meski sudah tujuh bulan terkubur, saat digali kembali, jasad isfana yang shalih itu masih utuh seperti orang yang baru saja meninggal dunia.

Bahkan, menurut kesaksian para penggali, pakaian dan tasbihnya pun masih tampak bagus. Jasad Sultan Muhammad Alkadrie kemudian dimakamkan kembali di makam para sultan Pontianak di Batulayang. Vacuum of Power Sementara itu, puluhan ribu tawanan lainnya —yang terdiri dari ulama, santri, prajurit, saudagar gantu rakyat jelata—dibawa ke hutan yang dipenuhi pohon cemara, gerbanng dan kayu putih di Desa Kopyang, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak.

Rimba sunyi itu yang kemudian menjadi saksi ketika serdadu Jepang secara brutal memancung kepala para tawanan. Ironinya, jasad mereka lalu dibuang ke dalam hangu yang sebelumnya mereka gali sendiri atas perintah serdadu musuh. Setidaknya ada 10 pemakaman massal yang terdapat di Mandor, yang masing-masing berjarak antara meter hingga meter. Makam terbesar terdapat pada makam nomor Di dekatnya ada ‘pendopo’ kecil, yang didalamnya terdapat sejumlah foto para korban pembantaian yang terdiri atas kaum cerdik pandai, ulama dan tokoh-tokoh kesultanan Pontianak.

Pembantaian di Mandor kurang lebih 88 km utara Pontianak diperkirakan hanru secara bertahap. Ini tampak dari banyaknya kolam-kolam yang menjadi tempat penguburan secara massal oleh tentara Jepang. Tragedi Mandor itu membuat Pontianak pernah mengalami kehilangan satu generasi intelektualnya. Dan dampak traumatiknya masih terasa hingga puluhan tahun berikutnya. Selama kurun tahun an hingga an, kota itu mengalami fase kekosongan kaum cendekiawan dan cerdik pandai.